Minggu, 31 Juli 2011

Bingkisan Kecil untuk Estafet Canting Menembus Waktu

Perjalanan di pagi buta berkejaran dengan naiknya mentari membawa kami ke hamparan padi menguning di kiri kanan jalan. Suara krang-kring bel sepeda mendampingi laju mobil kami. Sinar mentari memantul membuat sawah kuning tampil keemasan. Bantul yang sejuk menambah sejuk damainya hati kami. Pengalaman desa sesaat begitu ejekan teman-teman atas eforia perasaan kami ini selalu menimbulkan kerinduan dan sensasi yang menyenangkan.



 Begitu mendengar suara arus sungai, kami tahu tak lama lagi akan mencapai perempatan cantik dan sekolah itu akan tampak seperti sengaja dibangun di tengah sawah.. Pemandangan yang selalu mencuri nafas kami. Perempatannya saja sudah indah, pagi ini bertambah istimewa hanya dengan parkirnya sepeda onthel di salah satu ruas jalan perempatan itu...


Krang kring bel sepeda bertambah keras, rupanya gerombolan anak-anak berseragam putih merah, minta jalan untuk menuju sekolah mereka di tengah sawah tersebut.. Kami tersenyum.. Itulah anak-anak yang bersekolah di SD Kedungmiri, Imogiri-Bantul yang dibangun kembali ketika tinggal puing-puing akibat gempa yang terjadi di Bantul beberapa tahun silam.. Mereka menengok tersenyum. Betapa indah senyum mereka. Senyum yang menghiasi foto mereka ketika berpose untuk ucapan terimakasih pada orang tua asuh mereka, rekan-rekan kami yang menyisihkan pendapatan bulanan mereka untuk peralatan dan seragam sekolah mereka.

Tujuan kami datang ke desa Imogiri Bantul adalah untuk membagikan seragam sekolah dan penyuluhan tentang kanker anak yang bukan hanya untuk pengetahuan  mereka, tapi juga untuk guru dan orang tua mereka.

Kami masuk dalam pelataran sekolah SD Imogiri, disambut lari-lari kecil mereka. Ibu Sujiyem Kepala Sekolah mereka menyambut kami dan mempersilahkan kami melihat persiapan mereka. Persiapan yang mereka lakukan atas rasa syukur dibantunya sekolah oleh perusahaan tempat kami bekerja.


Beberapa alat peraga mengajar dan hasil prakarya anak-anak dipamerkan dan.....semuanya berawal dari sini.. Ibu Sujiyem memperlihatkan peralatan membatik di sekolah ini. Batik  yang untuk penulis selalu membawa efek menentramkan. Tentram saja...dan saat itu tidak berpikir panjang sampai melihat kenang-kenangan yang tak nyana adalah karya batik anak-anak murid SD Kedungmiri, Imogiri-Bantul. Dua batik pajangan dinding yang sekarang bertengger gagah menghiasi kantor dimana penulis bekerja. 


Indahnya batik ini melahirkan mimpi kami untuk membantu mereka mengembangkan karya mereka, mengenalkan potensi batik yang bisa dijadikan nadi perekonomian desa mereka kelak, selain bertani dan berkebun. Mimpi kami memang masih panjang jalannya tapi tak pernah kami lupakan.. Selalu terbuka pintu-pintu lain ketika pintu utama mimpi kami tertutup debu sulit ditembus. 
Tak pernah disangka kejutan dari salah satu rekan penulis, dari hasil usaha Baby n Me, yang disisihkannya kemudian oleh @batikIDku diwujudkan dalam bingkisan kecil berisi 60 canting yang terdiri dari 3 jenis canting yang paling sering digunakan dalam membatik, 16 set kompor dan wajan untuk melelehkan malam, 10 kg malam dan 30 meter kain Mori. Kami sebut bingkisan kecil dari hati kecil yang mulia untuk Estafet Canting Menembus Waktu. 

Bingkisan ini disambut dengan sumringah oleh Ibu Sujiyem ketika tanggal 16 Juli 2011 lalu diserahkan oleh rekan kami Ita Sembiring, novelis yang merilis novelnya berjudul Impal  baru-baru ini. Ita Sembiring merupakan penanggung jawab bidang CSR dari perusahaan tempat penulis bekerja.
@batikIDku yakin bingkisan kecil ini bisa digunakan oleh murid-murid SD ini untuk mengembangkan bakat mereka yang berarti ikut dalam Estafet Canting Menembus Waktu..

Minggu, 24 Juli 2011

Gebrakan Generasi ke-3 Oey Soe Tjoen

Dalam dunia sejarah perkembangan batik di Indonesia, nama Oey Soe Tjoen memegang peranan sangat besar. Batiknya yang sangat halus, desain yang hidup dan pengerjaan yang ekstra telaten mengharumkan batik Pekalongan dan menjadi kategori incaran kolektor batik pesisiran. Batik Oey Soe Tjoen seharusnya menjadi koleksi wajib Museum Batik di Indonesia. Tidak ada diskusi tentang batik pesisiran Indonesia yang tidak memperhitungkan namanya begitu juga tidak ada buku tentang batik Pesisiran yang tidak menyebutkan ketenaran batiknya.

Untuk para kolektor batik, memiliki koleksi batik Oey Soe Tjoen merupakan salah satu tujuan pamungkas. Sama halnya dengan anda yang antusias dengan batik, melihat batik Oey Soe Tjoen dipamerkan di museum, membuat decak kagum tak berhenti berkumandang. Desain motif batiknya yang terkenal adalah motif buketan yang dipengaruhi gaya Belanda, motif Merak, Kupu dan gaya batik Jawa Hokokai. Motif utamanya terkenal dengan gradasi warna hingga tampak sangat hidup. Padahal untuk menampilkan efek itu, motif tersebut memerlukan pengerjaan sampai 3 kali pelekatan malam. Motif isen-isennya sangat rapat dan halus. Bayangkan menggambar dengan pena rotring bernomor 0.1 dan memang canting yang digunakan oleh pembatikan Oey Soe Tjoen seukuran dengan itu.


Halusnya pengerjaan batik dari canting 01 Pembatikan Oey Soe Tjoen
Kalau selama ini cuma bisa memelototi halusnya motif batik Oey Soe Tjoen di museum dan tak akan pernah menyangka bisa melihat tanpa kaca pelindung atau dibatasi dengan larangan memegang, penulis terkejut ketika disodorkan 2 koleksi batik oleh Widianti Widjaja, generasi ke-3 dari Oey Soe Tjoen. Batik pertama merupakan batik dari generasi pertama yaitu Oey Soe Tjoen (Opa dari Widianti) yang mendirikan pembatikan itu bersama istrinya Kwee Tjoen Giok Nio yang berjaya dari tahun 1925-1976. Batik yang ke-dua dari era generasi ke-2 yaitu Oey Kam Long, putra pasangan tersebut (ayah dari Widianti Widjaja) dan Ibunya Lie Tjien Nio pada tahun 1976-2002. Walaupun menggunakan nama Oey Soe Tjoen, sebenarnya pembagian tugas dalam menjalankan pembatikan adalah sebagai berikut: tugas Suami adalah dalam hal penjualan dan pewarnaan (pencelupan), tugas Istri adalah : mendesain motif dan pemeriksaan kualitas. Kesemuanya sekarang dilakukan sendiri oleh Widianti Widjaja.


Widianti yang lahir di Pekalongan tanggal 23 November 1976 ini menjelaskan perbedaan tanda tangan nama Oey Soe Tjoen dari era generasi pertama, generasi ke-dua dan saat dipegangnya sendiri. Karena batik Oey Soe Tjoen menjadi incaran para kolektor, maka beredar pula batik-batik palsu yang diberi nama Oey Soe Tjoen. Widianti dapat mengetahui mana yang asli buatan keluarganya ataupun yang palsu, tidak hanya dari tanda tangan tapi juga kehalusan pengerjaan batik tersebut.

Oma Widianti, Kwee Tjoen Giok Nio pernah membubuhkan namanya sendiri yang terkenal dengan Kwee Netty (panggilan Belandanya), tetapi ternyata penjualan tidak sebaik apabila berlabel Oey Soe Tjoen. Sampai saat ini masih saja beredar batik-batik palsu yang mencantumkan nama ‘Netty Kwee’ bukan ‘Kwee Netty’. Nama tenar keluarga yang pembatikannya berada di Jalan Kedungwuni ini masih saja dikutip untuk keuntungan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti dituturkan Widianti, lulusan Universitas Atmajaya Yogyakarta angkatan 1994. Masa SD dan SMP Widianti dihabiskan di Pius Pekalongan yang kemudian dilanjutkan ke SMA Negeri 1 Pekalongan.

Menurut Widianti, pada masa jayanya, Opa dan Oma bisa memiliki 100 an karyawan, yang pada masa ayah dan ibunya berkurang menjadi 40 orang, dan kini dibawah pimpinannya, tinggal 15 orang. Widianti menjelaskan bahwa dirinya hanya bisa mempertahankan yang terbaik yaitu pembatiknya yang konsisten dalam menjaga mutunya. Dalam setahun hanya bisa memproduksi 20 batik. Kini batik Oey Soe Tjoen dibawah pimpinannya, hanya bisa dipesan (tidak tersedia stok jadi) dan memerlukan waktu 2 tahun. Hanya pemesan serius yang telah memberikan DP kira-kira 20% yang akan dikerjakan batiknya.


Karya Widianti Widjaja yang menyabet posisi ke-2 Lomba Design Batik di Pekalongan
Upaya Widianti meneruskan usaha pembatikan Oey Soe Tjoen akan diputar dalam film dokumenter besutan sutradara terkenal Nia Dinata (Arisan, Berbagi Suami) yang melalui akun twitternya disuarkan akan berjudul “Batik….Our Love Story” Seperti diceritakan sedikit oleh Widianti, kini pekerjanya membatik di rumah mereka sendiri dan hanya pencelupan yang masih dilakukan di kediamannya di Kedungwuni. Pemeriksaan kualitas pekerjaan pembatiknya dilakukan secara berkala dengan berkeliling menggunakan motor ke rumah-rumah mereka. Film dokumenter Nia Dinata ini bakalan menjadi tontonan wajib pencinta batik Indonesia.

Ibu berputera 2 ini mengaku meneruskan bisnis keluarganya sebagai prioritas ke-tiga dalam menjalankan hidupnya setelah suami dan anak-anaknya. Ayahnya meninggal mendadak karena kanker hati, tetapi seperti yang diceritakannya rupanya ayahnya pelan-pelan telah  membekalinya ilmu untuk meneruskan pembatikan ini. Saat itu dengan rasa terpaksa Widianti meneruskan pembatikan Oey Soe Tjoen. Walaupun terpaksa, beberapa kreasi adaptasi dari motif Omanya lahir juga seperti motif Merak Manten. Caranya melahirkan adaptasi baru dari motif Omanya adalah dengan menggelar semua variasi motif yang pernah didesain Omanya dan dengan permintaan pemesan, maka diambilnya motif yang berukuran sesuai permintaan dan diadaptasinya motif tersebut untuk dikombinasikan dengan motif lain, disempurnakan dalam tata letak dan pemilihan warna dan isen-isen untuk memenuhi keinginan pemesan.


Karya Widianti yang belum diselesaikannya tentang Kisah Yesus
@batikIDku penasaran dengan keterpaksaan yang telah dijalani sejak tahun 2002, tetapi cukup kontras dengan hasil adaptasi desain brilian yang ditunjukkannya lewat album koleksi desainnya. Tak kuasa menahan, lantas keluar pertanyaan "Dengan adaptasi desain sebagus itu, pernahkah ada keinginan untuk menutup mata dari semua desain Oma dan keluar dengan desain sendiri?” Tak disangka pertanyaan ini menimbulkan binar-binar di mata Ibu yang ramah, dan sangat senang bercerita ini. Sambil menerawang Widianti menggangguk dan berikutnya beda sekali caranya bercerita. Dengan semangat ditunjukkannya karya desainnya yang menyabet tempat ke-dua lomba desain batik di kota  Pekalongan beberapa tahun lalu. Widianti yang rendah hati lupa nama ajang lomba desain tersebut. Ternyata tidak hanya itu hasil kreasinya sendiri. Masih ada satu lagi desain batik  yang menggambarkan kisah Yesus. Batik yang belum selesai dibuat ini, baru dicelup 1 warna, tetapi detail dari motif telah diselesaikan. Tidak berhenti di situ, akhirnya keluar juga karyanya yang lain lagi, dan yang satu ini membuat @batikIDku terperangah. Kagum dengan hasil karyanya tersebut, @batikIDku bertanya kapan karya sendiri ini akan dikeluarkan? Matanya semakin berbinar, rupanya terpantik semangatnya dan berjanji pada @batikIDku akan menggunakan batik desain tersebut, pada acara resmi di sekitar bulan Oktober, 2011 nanti.

 Tidak terasa 4 jam sudah kami berbincang. Obrolan yang sangat kaya terlebih membanggakan dari Widianti Widjaja, membuat @batikIDku menantikan datangnya bulan Oktober, bulan yang akan mengungkap Gebrakan Generasi ke-3 Pembatikan Legendaris Oey Soe Tjoen. Nantikan motif brilian dari Widianti Widjaja (Oey Kim Lian) tokoh Estafet Canting Menembus Waktu yang secara eksklusif akan diulas kembali di postingan mendatang @batikIDku.

Jumat, 22 Juli 2011

Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta

Keindahan lukisan Museum Ullen Sentalu yang diambil dari brosur resmi museum
 Bergumul dengan batik mustahil tak bersinggungan dengan sejarah kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram yang kemudian akhirnya pecah menjadi 4 kerajaan, 2 di Yogyakarta dan 2 lagi di Surakarta ternyata sangat menarik untuk disimak dan 'dialami'. Cerita ini pula yang sedikit/banyak menjelaskan latar belakang perbedaan desain batik Surakarta (Solo) dan batik Yogyakarta (Yogya).

Museum Ullen Sentalu bisa dikatakan tempat yang didesain sangat menarik untuk bisa 'merasakan aura' kehidupan keraton melalui lukisan-lukisan Raja dan Ratu dari 4 Keraton pecahan dari Dinasti Mataram. Museum yang namanya ternyata singkatan dari Ulating blencong sejatine tataraning lumaku yang berarti Pelita Kehidupan untuk Manusia, mengangkat tema 'Putri-Putri Raja atau Princesses'.  Menurut uraian menarik dari Mbak Tya-pembawa tamu (guide) museum ini, memang pendirian museum Ullen Sentalu diharapkan dapat menjadi pelita pengetahuan untuk para pengunjung museum. Museum ini diresmikan pada 1 Maret 1997 oleh Pakualam VIII yang pada saat itu menjabat Gubernur DI Yogyakarta.

Diawali dengan sambutan di ‘voyeur’ arca Dewi Sri yang merupakan Dewi Kesuburan, perlambang peranan seorang Dewi untuk kesejahteraan rakyat. Cerita tentang Putri-Putri Keraton yang berpengaruh dan menonjol menjadi cerita yang sangat menarik diperkuat dengan indahnya lukisan, tataruang dan terutama kekuatan 'Guide' bertutur. Pasrahkan diri anda pada 'story telling' guide museum ini, anda akan serasa dibawa kembali dengan mesin waktu dan merasakan sensasi kehidupan Keraton... Keluar dari mesin waktu ini yang terbayangkan adalah 'betapa indah apabila ada cuplikan dari cerita panjang ini yang bisa diangkat menjadi Film Indonesia' ketimbang film-film pocong dan kroninya yang menjadi ciri khas film Indonesia belakangan ini.

Lorong Batu yang mengungkap cerita indah Dinasti Mataram (diambil dari brosur resmi museum)
Tidak ada cara lebih baik untuk menggambarkan museum ini kecuali Anda datang sendiri dan merasakannya. Untuk pencinta batik, kemanapun mata anda memandang ,dari seluruh lukisan yang ada, maka bagaimana batik dikenakan dan corak batik yang dikenakan keluarga Keraton tergambar dengan jelas. Dipecahnya Kerajaan Mataram melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 melahirkan perbedaan  corak batik antara Solo dan Yogya yang juga disuguhkan hingga kita bisa merasakan bedanya. Dari segi warna batik Solo mayoritas berwarna coklat atau berlatar sogan sementara batik Jogja cenderung berwarna dasar putih atau hitam (yang sebenarnya adalah biru tua pekat hingga tampak hitam). Dari segi desain, batik Solo lebih kecil ukuran motifnya dan luwes desainnya sementara batik Yogya bermotif lebih besar dan lebih jarang hingga terkesan lebih gagah atau maskulin. Pengaruh Mataram Hindu dan Mataram Islam juga bisa dilihat pada motif batiknya.

Beberapa motif yang mewakili motif batik Solo yang ditampilkan khusus di Ruang Batik Solo adalah:  motif parang cantel, parang kusumo dan parang sujen yang melambangkan ketajaman pikiran dan kekuatan. Motif ini tentunya tidak cocok dipakai untuk pernikahan. Sementara motif semen romo, sidho mukti digunakan untuk upacara pernikahan, batik motif tambal kanoman digunakan untuk menyelimuti anak Raja yang sakit agar segera sembuh. Motif Ceplok Sekar Seruni, motif Ceplok Sawut, motif Ganggong, motif Putri Solo. Motif Udan liris salah satu motif lereng yang bermakna untuk memperlancar datangnya rejeki.

 Beberapa motif yang mewakili motif batik Yogya : motif kawung, motif bolu rambat, motif lereng Hok (burung hantu), motif ceplok Peksi Kerno, motif Segaran Candi Baruno, motif Tirto Tedjo, motif Semen, Ayam Puger dan Grage waluh. Motif Parang Prabu Anom hanya digunakan untuk Putra Mahkota

Beberapa makna angka 3 ditemukan dalam cerita Mbak Tya, seperti hal menarik yang disampaikannya tentang HB IX yang telah menciptakan setidaknya 5 tarian dan salah satu yang digambarkan dalam lukisan adalah Tari Menak. Tari Menak menggambarkan  cinta segitiga, antara 2 Putri (Putri China dan Putri Jawa) yang bertarung memperebutkan Pangeran Tampan. Pengaruh Mataram Islam tampak pada Putri Jawa yang mengenakan lengan panjang, sementara pengaruh Mataram Hindu masih nampak pada kalung bersusun 3 yang dalam kepercayaan Hindu berarti lahir, dewasa lalu meninggal.

Tiga Putri yang menarik perhatian untuk diceritakan kembali adalah:

Adik dari Sunan PB XII yaitu GRAj Koes Sapariyam rupanya memendam cinta yang tak mendapat restu karena tidak memenuhi bibit bobot bebet. Kesedihannya diabadikan khusus di ruang puisi Tineke, begitu panggilan Belanda untuknya. Puisi-puisi tulisannya dipajang bersama dengan dengan surat-surat kerabat dan teman-temannya dari penjuru dunia untuk menghibur duka patah hatinya. Satu puisi memikat yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris seperti berikut :


A wingless butterfly does not exist in this world

A thornless rose is hardly any or none

A friendship without fault is also something rare

But love without trust is the biggest lie in this world




Putri lain yang sangat cantik hingga dibuatkan Ruang Putri Dambaan adalah Putri GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, Putri dari Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Foto-foto sejak kecil dan masa remajanya yang sangat cantik menghiasi ruangan ini. Putri yang anti poligami dan tidak tertarik dengan lelaki yang terjun dalam bidang Politik menampik banyak tokoh politik seperti Bung Karno, Sultan Syahrir dan HB IX dan akhirnya menikah pada usia 30 tahun dengan sepupunya sendiri S Suryo Sularso dengan pangkat terakhir Mayor Jendral yang pernah menjabat sebagai Atase di Amerika. Putri Nurul ini pernah menari Serimpi Sari Tunggal di tahun 1937 pada acara resepsi pernikahan Ratu Yuliana di Belanda, sementara musiknya dimainkan di Solo dan direlay lewat Radio untuk mengiringi tarian Putri Nurul ini.

Ratu Mas, Putri dari Sultan HB VII (Yogya) yang menikah pada usia 17 tahun dengan PB X (Solo) yang terkenal sangat kaya, saat itu sudah berusia 45 tahun dan sudah memiliki 40 selir dan 1 orang Permaisuri. Berdasarkan mitos pernikahan antara Kesultanan Yogya dengan Kasunanan Solo tidak akan menghasilkan putra mahkota, dan tergenapilah mitos itu karena pernikahan ini dikaruniai satu orang Putri yaitu Gusti Pembayun. Walaupun demikian PB X sangat menyayangi Gusti Pembayun. Ruang khusus dibuatkan pada museum ini untuk menampilkan baju upacara adat pernikahan juga baju-baju yang dipakai untuk acara-acara pertemuan formal. Ratu Mas pandai mendesain dan beberapa desain topinya yang dibuat di Perancis dipamerkan juga di ruangan khusus ini. Perjalanan di museum ini juga kemudian ditutup dengan disajikannya Minuman Khusus ramuan 7 bahan dari Ratu Mas yang dipercaya akan membuat awet muda siapa saja yang meminumnya.

Rabu, 20 Juli 2011

Museum Batik Yogyakarta

Menapaki jejak batik di  3 kota: Jogja, Pekalongan dan Solo memang diniatkan untuk mencari makna di balik motif cantik batik yang lestari diturunkan dari generasi ke generasi. Proses pembuatan bahan sandang dengan cara perintang warna ini termasuk cara yang kuno tetapi tetap ada sampai sekarang. Tentunya selain keindahan dan kekayaan motif, tersimpan makna yang mendalam yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja atas nama kepraktisan atau  sekedar mengejar perkembangan jaman.

Sasaran yang dituju dari 3 kota ini adalah Museum Batik, yang dalam bayangan pastinya menyimpan koleksi-koleksi motif tradisional khas kota tersebut. Seperti dongeng sebelum tidur, makna atau mitos  dari desain motif yang indah diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kolektor  batik motif tradisional  diharapkan mengerti makna yang tersimpan, pengaruh budaya pada pengembangan desain hingga lahir motif tersebut, dan dibagikan pada pengunjung museum. Dengan begini wisata ke museum batik bisa menjadi proses pengayaan bagi pencinta batik, produsen batik, pencinta desain dan pencinta sejarah. Beruntung tujuan pertama jatuh pada Museum Batik Yogyakarta. Museum yang menyajikan 1200 koleksi pribadi dari pasangan Dewi Sukaningsih dan alm. Hadi Nugroho yang juga pemrakarsa dan pendiri museum yang diresmikan  pada 12 Mei 1977 ini.

Dari jalan utama Jl. Dr. Sutomo, pengunjung disambut jalan pribadi yang lega dengan pintu gerbang terbuka.  Dari pintu gerbang pandangan melayang ke bangunan megah di pojok kiri yang ternyata merupakan Hotel Batik milik putra Bu Dewi. Museum Batik Yogyakarta yang dituju ternyata menempati bangunan depan di sebelah kanan gerbang, berukuran dan berdesain  lebih sederhana dari  Hotel Batik. Sangat kontras dibandingkan koleksi batik yang dimiliki museum ini.

Museum ini memili koleksi batik tua yang dibuat tahun 1800-an dengan pengaruh desain  Belanda yaitu buketan  (rangkaian bunga). Motif buketan mewakili batik pesisir dari Pekalongan  dengan desainer terkenal Belanda masa itu, E Van Zuylen. Selain batik Pekalongan, batik Djawa Hokokai yang mendapatkan pengaruh dari masa pendudukan Jepang , batik Lasem, dan batik Cirebon juga  menjadi bagian dari koleksi museum ini. Termasuk di dalamnya yaitu Batik Cina yang dikerjakan di kota Yogya dahulu dinamakan Batik Sing yang berwarna keunguan.

Batik-batik dengan motif tradisional Yogyakarta dan Solo juga menjadi bagian yang memikat dari koleksi museum ini yang kemudian dijelaskan perbedaannya terletak pada warna batik dan juga ukuran motifnya. Batik Solo cenderung berwarna coklat atau berlatar sogan, motif berukuran lebih kecil dengan desain lebih feminim  sementara batik Yogya mulai memunculkan latar putih dan ukuran motif lebih besar sehingga berkesan lebih gagah.

Sayang sekali koleksi batik di Museum ini tidak boleh difoto, sehingga beberapa makna dan pemakaian berikut ini kurang bisa digambarkan dalam motif batiknya. Bapak Prayogo, dari Museum Batik Yogyakarta menerangkan hal-hal menarik dari arti motif dan pemakaian motif tersebut dalam upacara adat seperti: Motif Wirasat (firasat) dahulu dipakai oleh orang dipercaya penuh seperti misalnya pengawal istana. Dengan filosofi yang sama apabila untuk kepala keluarga, motif yang cocok adalah sidho mulyo.

Motif batik Kokrosono yang merupakan tokoh pewayangan, putra Basudewa raja Maduran, mengandung makna 'jangan melihat orang dari rupanya tetapi dari hatinya'. Lain lagi dengan motif Kawung yang merupakan lambing kesetiaan dipakai oleh abdi dalem  pada upacara adat. Untuk yang jarang melihat motif jahe dipakai sebagai ‘isen-isen’ atau lataran batik, bisa melihatnya di museum ini. Jahe merupakan simbolisasi dari rakyat. Sementara Motif parang Curigo Kesit pada jaman Pak Harto digunakan untuk seragam darmawanita, yang tentunya sebagai simbol kesetiaan istri pada suami.

Ternyata ada motif batik yang sangat unik yang menjadi bagian dalam upacara pernikahan yaitu motif Lar Gurda Rambutan. Dipakai oleh orang tua pasangan yang menikah ketika sudah di rumah yang merupakan tanda bahwa rumah sudah kosong dan siap menerima pasangan yang menikah tersebut tetapi pasutri belum bisa menunaikan malam pertamanya apabila belum mendapatkan kain bermotif Lar Kupu Rambutan. Bahkan surat ijin malam pertama berupa kain batik…

Ibu Dewi Sukaningsih merupakan generasi ke-4 dari pengusaha batik bermerek ‘Golekono’yang berjaya pada masa 1930. Pada masa Bu Dewi berganti nama menjadi Oscar kemudian berubah nama lagi menjadi Batik Museum yang mengkhususkan pembatikannya mengerjakan replikasi dari koleksi museum. Pengunjung museum boleh memilih batik koleksi museum yang disukainya dan memesan replikasinya. 

Bicara batik tidak bisa terpisah dari kebaya, dan museum ini menyimpan koleksi kebaya sulam sangat halus buatan Ny Ang Djie Kiat. Menurut Bu Dewi benang yang digunakan Ang Djie Kiat beda dari benang-benang yang ada sekarang sehingga kehalusan sulamannya tidak tertandingi. Tidak hanya bakat mendesain batik tetapi bakat menyulam menurun pada Bu Dewi Sukaningsih. Sulaman potret wajah tokoh-tokoh dunia seperti Bunda Teresa, Paus Yohanes II, Bung Karno, Lady Diana dan banyak lagi tergantung di dinding pada sudut pajang koleksi Sulaman. Menggunakan nama baptisnya Jumima, sulaman-sulaman itu ditandatanganinya.  

Atas usaha Estafet Canting Menembus Waktu, Ibu Dewi Sukaningsih mendapatkan penghargaan   Nugraha Lastari yang merupakan penghargaan kepada seseorang atau organisasi atas upaya aktif melestarikan kekayaan seni-budaya tradisi dari Majalah Kabare. Kebetulan majalahnya datang pada saat bincang-bincang dengan Bu Dewi . Anugerah Nugraha Lastari diserahkan oleh Direktur Eksekutif Kabare Magazine, KRMT Indro ‘Kimpling’ Suseno pada acara malam penghargaan yang diadakan oleh Majalah Kabare dan beberapa tokoh mahadaya Budaya (baca ulasannya pada tautan berikut).

Menutup perbincangan dengan @batikIDku, Ibu Dewi Sukaningsih meyakinkan bahwa usahanya melestarikan Museum ini diupayakan dengan meneruskan kepemilikan museum pada 3 anaknya. Kenapa tidak ke salah satu anaknya saja tetapi ke-tiganya merupakan caranya mencegah dijualnya museum ini ke tangan lain. Visinya tak cuma ke generasi di bawahnya langsung tapi bahkan tiap anaknya pun diminta untuk memilih salah satu dari anak mereka untuk mewarisi museum ini.
Jadi Bu Dewi Sukaningsih akan mewariskan museum ini pada 3 anaknya dan kemudian akan diteruskan lagi ke  3 cucunya...hingga museum ini tetap lestari lewat 'estafet 3 generasi'...

Senin, 11 Juli 2011

SMKN 1 ROTA Bayat, Klaten

 
Berkeliling di Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011 yang berlangsung di di JCC Senayan 6-10 Juli yang baru lewat, memunculkan kembali rasa optimis akan negeri ini. Kaum muda menunjukkan kreativitas mereka yang beragam, meyakinkan masa depan negeri ini tak akan suram. Mereka membawa perubahan dan perubahan sedang terjadi sekarang. Beberapa universitas atau kreatif muda profesional bahkan sekolah kejuruan ikut serta dalam ajang ini. Antara yakin dan berharap cemas kreativitas mereka juga merambah dalam wujud batik membawa @batikIDku pada kekaguman akan corak batik indah dengan pewarna alam yang digantung-gantung mencolok pada stan mereka. Ternyata stan ini milik SMKN 1 ROTA Bayat dari Klaten, Jawa Tengah.
Mereka menyediakan canting dan malamnya untuk pengunjung yang ingin mencoba proses awal membatik. Setelah anak-anak SMKN 1 Bayat ini membuatkan pola dengan pensil pada sehelai kecil kain, maka pengunjung dapat merasakan sendiri melekatkan malam dengan canting pada kain berpola tersebut. Menarik bukan? Karya batiknya yang cantik dan penyajian stan yang unik ternyata baru sedikit dari fakta potensi sekolah kejuruan ini. Pak Daliya, pengajar jurusan Kriya Tekstil SMKN 1 menceritakan keberhasil sekolah ini pada ajang nasional yaitu Student Company Fair di Plaza Semanggi 25-26 Juni 2010 sebagai ‘The Most Active and Best Performing Student Company’ Student Company diaplikasikan pada materi pengajaran kewirausahaan di sekolah kejuruan ini. Dengan nama perusahaan pelajar SAKURA mereka membuktikan dapat menghasilkan keuntungan yang sehat juga mendapatkan penghargaan atas pengelolaan hadiah uang yang mereka dapat (berita lengkapnya dapat dilihat pada tautan ini)
Batik tulis tangan dengan pewarna kimia karya siswa SMKN 1 ROTA Bayat
Sekolah menengah kejuruan yang didirikan di tengah sentra pengrajin batik dan keramik di tahun ajaran baru 2009 yang lalu, awalnya kurang mendapat sambutan positif masyarakat setempat yang enggan menyekolahkan anak mereka ke sekolah kejuruan ini, takut hanya bernasib sama saja dengan ortu mereka sebagai pengrajin batik dan keramik. Namun tak hanya prestasi Student Company di ajang nasional tetapi posisi terbaik ke-dua Internasional disabet juga oleh SMKN 1 Bayat ini yang diwakili Ines Wardani dan tim kecilnya dalam kategori Company Fair di FIE (El Foro Internacional De Emprendedores/ International Forum of Entrepreneurs) Mei 2011 lalu di Cordoba, Argentina.  Ajang internasional ini diwakili 12 negara (berita lengkapnya dapat dilihat pada tautan berikut)
Batik tulis tangan dengan pewarna alam karya siswa SMKN 1 ROTA Bayat
Prestasi gemilang di usia yang baru menginjak 2 tahun tak lepas dari arsitek-arsitek hebat pendiri dan pengarah sekolah kejuruan ini. Didirikan atas kerjasama Depdiknas, pemerintah setempat, ROTA (Reach Out To Asia), Qatar Foundation dan Titian Foundation, memiliki visi ‘menjadi SMK bertaraf internasional dan center of excellence dalam bidang batik dan keramik di Indonesia dengan menghasilkan lulusan yang terampil dan memiliki citarasa seni tinggi sehingga mampu bersaing di pasar internasional’. Jurusan Keramik dibina langsung oleh ahli keramik dari Jepang, Profesor Kawasaki yang sangat tertarik metoda putar miring dalam pembuatan keramik yang satu-satunya di dunia ini hanya ditemukan di Bayat, Klaten.
Batik Cap kombinasi tulis
Sasaran Jurusan Kriya Tekstil sendiri adalah : membekali siswa ketrampilan teknik dan pengetahuan seni tekstil berfokuskan pada seni batik, mencetak siswa yang mampu menopang industri tekstil daerah dan nasional, dan yang terakhir menyadarkan bahwa seni tekstil terutama batik yang merupakan warisan adiluhung bangsa Indonesia memerlukan peran aktif dalam usaha pelestariannya.
Sekolah yang diawali dengan 2 kelas per jurusan (total 4 kelas) masing-masing dengan 32 siswa per kelas, kini siap menyambut angkatan baru di tahun ke-tiga nya dan juga melepas lulusan tahun pertamanya. Di tahun pertama, siswa jurusan kriya batik wajib ikut menorehkan canting pada Sketsa Budaya Bangsa yang merupakan sketsa dalam batik kain panjang yang saat ini sudah mencapai 140 meter. Pak Daliya pengajar dengan segudang keahlian  dan filosofi mendalamnya merupakan lulusan SSRI (kini SMSR) tahun ‘86. Beliau melanjutkan ke IKIP Yogyakarta mengambil Program Studi senirupa dengan tugas akhir Lukis. Filosofi batik telah dikuasainya berkat pengalaman mengajar batik sejak ‘94 di SMKN 1 Kalasan sampai sekarang. Beliau pernah menyabet Penghargaan Pratita Adikarya terbaik batik sandang di Pendopo SMSR Jogja tahun ’86.
Ragam corak yang dipamerkan
Menurut Pak Daliya, siswa Kelas 1 fokus pada pengetahuan motif batik tradisional klasik nusantara. Kelas 2 pada filosofi batik. Kelas 3 pengembangan ciri khas motif kreasi sendiri. Dalam uraian pendeknya lulusan SMKN 1 Bayat ini diharapkan siap kerja, siap berwiraswasta, dan ke tiga untuk menyiapkan siswa yang tertarik melanjutkan pendidikan ke universitas.  Melalui Student Company yang kemudian masuk dalam kurikulum, siswa diminta untuk membuat proposal kewirausahaan untuk mendapatkan modal dari 2 juta sampai dengan 8 juta rupiah.
Impian Pak Daliya untuk mendirikan Monumen Canting Terbesar yang menaungi lab batik terbesar dan menjadi pusat riset batik dan keramik berskala Internasional. Beliau menutup obrolan dengan filosofinya :
Batik cap kombinasi tulis
Dengan Ilmu hidup lebih mudah,
Dengan Seni hidup jadi indah,
Dengan Iman hidup akan terarah...

Rabu, 06 Juli 2011

Amanda Hartanto Desainer Muda Batik Indonesia

Batik Klasik karya Amanda dengan  signature twist-nya
Batik semakin memikat minat kaum muda. Tak hanya minat mengenakan produk fesyennya melainkan ikut terjun ke industry fesyen batik dan kreasinya. Selain membanggakan, mereka memberikan nuansa lain pada fesyen batik. Batik tampil selain lebih trendi juga tampil lebih kasual. Aplikasinya semakin luas dan pelan-pelan terkikislah jargon ‘Pake batik? Kayak mau kondangan!”

Kalo diantara kaum muda banyak yang terjun di industri produk-jadi dari batik, @batikIDku terkesan dengan Amanda Hartanto, yang tak hanya mendesain gaun batik tapi juga fokus mendesain sendiri kain batiknya. Di tangannya batik bisa tampil klasik elegan walaupun tetap ada twist khusus yang terlihat sebagai signature Amanda Hartanto. Selain tampil elegan, batik bisa tampil funky dengan permainan warna dan tabrak proses. Pada karya batiknya, Amanda bisa menggabungkan beberapa proses sekaligus seperti metode cap yang digabung dengan metode tulis bahkan sampai menggunakan kuas cat tembok untuk menyapukan malam pada kainnya. Efek kuas tersebut memberikan nuansa sangat ‘unik’ pada batiknya yang tak hanya diaplikasikan pada bahan katun tapi pada bahan sutra juga. Ketika ditanya karya mana yang paling dibanggakannya, dengan rendah hati dipilihnya batik dengan twist kuas ini.

Rancangan Gaun Batik Amanda - Pojok kiri atas berbahan batik 'twist' kuas kebanggaannya
 Amanda yang bernama lengkap Maria Theresia Amanda Mayangsari Hartanto lahir di Bandung tanggal 18 Juli 1987, mengambil S1 nya di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB dengan Program Studi Kriya Tekstil. Ia memilih tugas akhir dengan judul ‘Eksplorasi Teknik Batik’.  Kesukaannya pada batik yang dimulai tahun 2008 membulatkan niatnya untuk berkiprah total pada desain batik. Amanda sempat bekerja untuk Batik Parang Kencana sebagai desainer tekstil tahun 2008-2010. Amanda juga menjadi Redaktur mode majalah Femina (Femina Group–2011) yang terpaksa musti dilepasnya  karena mendapatkan beasiswa S2 di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB . Kuliah S2 yang akan dimulai Agustus 2011 dengan mengambil Program Studi: Proyek Desain Tekstil, seperti diceritakannya dengan semangat, akan membuatnya menghasilkan karya batik sebanyak-banyaknya.

Batik Karya Amanda Hartanto
Produk gaun wanita dan kain batiknya masih dipasarkan dari mulut ke mulut atau dititipkan pada teman-temannya atau lewat pameran. Karya Amanda diikutsertakan di stand batik FSRD ITB, pada pameran Adiwastra Nusantara di JCC yang baru lalu dan ikut serta pada Bazaar Ranadi, bazaar yang juga merupakan garage sale tahunan ini. Berikutnya Amanda berniat akan memasarkan karyanya lewat web agar bisa lebih luas diketahui pencinta batik dan produk kreatifnya.

 Dengan mata berbinar-binar gadis ayu ini menceritakan ultimate goal-nya dalam kancah perbatikan ini adalah ingin seperti Obin (Josephine Komara) dari BIN's House yang karyanya bisa kita nikmati pada gerainya dengan nama Cita, Saberro's House atau Incubare . Obin memang menggebrak dengan kebaya kasualnya dan kain-kain dengan motif khasnya yang memadukan desain dengan tekstur  kain yang memukau. Ketika kebaya bisa menjadi busana kantor atau 'sahabat akrab' jeans dan tetap elegan untuk pesta malam, dari tangan Obin lah trend tersebut dimulai. Sementara dalam hal mendesain batik, Amanda banyak terinspirasi oleh Maestro desainer batik yang dikaguminya yaitu Go Tik Swan. @batikIDku pernah membahas Maestro batik ini (klik disini untuk artikelnya).

 @batikIDku bangga dengan Amanda Hartanto, kaum muda yang mendedikasikan diri sebagai desainer batik. Membuat batik semakin bisa diterima dan tentunya diteruskan ke generasi mendatang. Amanda telah terjun dalam Estafet Canting Menembus Waktu. Bila pembaca mengenal kaum muda lain yang juga terjun dalam Estafet Canting Menembus Waktu, bisa memberikan detail atau artikel tentang diri dan karyanya ke email berikut: batikidku@gmail.com untuk bisa kita tampilkan pada blog ini. Berbagi cerita yang menginspirasi untuk ikut Estafet Canting Menembus Waktu.

Sabtu, 02 Juli 2011

Indonesia Fashion & Craft Expo 2011

 Senangnya melihat perkembangan kreasi anak negri di Indonesia Fashion and Craft Expo 2011, Balai Sidang Jakarta Convention Center 29 Juni – 3 Juli, 2011. Yuk ikutan mampir. Cuma tinggal akhir pekan ini kesempatannya.

Seperti biasa @batikIDku memilih produk kreasi unik dari batik atau pelengkap busana batik, yang pada pameran ini jatuh pada produk-produk berikut:

Batik Padang di Pameran Fashion & Craft JCC 2011 dr Inaaya House of Clay Batik www.claybatik.com, FB Inaaya Clay Batik.







Tas batik cantik kombinasi kulit python asli dari Rita Batik Maleo Bintaro atau koleksi bisa didapatkan di Salon Mouse, Kebayoran Baru +62217243841 & +622174861712

Kreasi batik dipadu dengan sulam khas Padang dari Rumah Mode D'lubpad Abadi , donimaslim71@ymail.com

Scarf Batik 2 muka dari Zola FB Zola Butik ; butikzola@gmail.com Bandung. Kreasi batik tabrak motif cerah masih dari Zola butikzola@gmail.com FB Zola Butik






Pakai kain batik & kebaya kurang cantik tanpa perhiasan unik lagi antik dari Amalia Jewel & Craft amalia.jewelcraft@gmail.com Gerai perhiasan ini mengkhususkan pada replikasi perhiasan dari desain-desain yang ditemukan di Nusantara dari jaman ke jaman.

Batik mega mendung Cirebon yang biasanya tampil hanya dengan satu-satunya motif mega mendung kini tampil dengan tambahan Ceplok Motif Naga dari RAJJAS BATIK (dengan akun twitter @rajjasbatik).
 Selain gagahnya ceplok motif Naga, mega mendung juga tampil cantik dengan tambahan ceplok Kupu-Kupu, masih dari RAJJAS BATIK

Gaya carut yang sedang trend, kini tampil pada gaun batik tulis dari SRIDJAJA batik Yogyakarta +62274561610 dengan cabang di Jakarta  +62217208218

Jumat, 01 Juli 2011

Tips Memilih Batik

 Ingin punya batik bermotif keren, nyaman dipakai , dan harga juga nyaman untuk kantong, simak tips memilih batik berikut ini :

Motif batik bisa tersaji dari proses tulis canting, cap dan print. Motif batik proses print bukan menggunakan metoda perintang warna dengan malam/wax seperti proses pembuatan batik yang diakui Unesco.

Dari urutan murah ke mahal apabila berbahan sama pakemnya: print motif batik,  cap dan kemudian baru batik tulis. Demikian pula produk fesyennya juga mengikuti pakem tersebut.

Pada print motif batik pada umumnya motif  terlihat jelas pada sisi luar saja, sementara sisi dalamnya tidak, tetapi sekarang telah ada teknologi print motif batik 2 sisi yang cukup presisi. Teknologi printing digunakan untuk mempersingkat proses tetapi tetap mempertahankan motif khas batik. Dengan adanya print motif batik pula dimungkinkan kain bermotif batik bisa didapatkan dengan harga terjangkau dan bisa lebih leluasa untuk diaplikasikan pada berbagai jenis bahan pakaian. Kain print motif batik bisa menggunakan bahan polyester (tidak menyerap keringat dan cenderung panas) dan bahan-bahan lain seperti aplikasi printing pada bahan baju yang lain.

Batik cap atau tulis cenderung lebih nyaman dipakai karena berbahan katun primis atau primisima (lebih halus lagi) atau ber bahan sutra. Mengikuti harga materialnya, urutan dari murah ke mahal: primis, primisima baru kemudian sutra.

Batik cap cenderung dibuat satu sisi tetapi karena proses perintang warna dengan malam, sisi belakang juga bermotif sama tapi tampak tidak sejelas bagian depan nya.

Hitung warna dalam motif yg anda pilih. Semakin banyak warna semakin tinggi harga batik seiring dengan penambahan proses pencelupan dan penambahan malam pada batik.

Batik tulis 2 sisi lebih mahal karena proses membubuhkan malam jadi terhitung 2 kali yang biasa disebut dengan ‘diterusi’ yang artinya diteruskan di sebaliknya. Hasilnya akan terlihat sangat cantik karena bagian depan dan belakang tidak bisa dibedakan atau keduanya bisa dipakai.

Karena kain print motif batik sudah bisa dihasilkan presisi bolak balik maka bagaimana membedakannya dengan batik tulis? Pada batik tulis, pengulangan pola/  motifnya tidak seragam baik bentuk juga ukurannya.

Motif batik dapat terdiri dari motif utama dan motif ‘isen-isen’ atau disebut juga lataran atau pengisi latar belakang. Batik tulis dengan isen-isen rapat & rumit cenderung berharga lebih mahal.

Batik tulis berlatar belakang putih bersih tanpa isen-isen juga cenderung lebih mahal karena membutuhkan pembubuhan malam untuk memblok warna latar belakang yang tak boleh bocor pada saat pencelupan warna untuk motif utamanya.

Semoga tips ini berguna untuk Anda yang masih pemula dalam memilih batik.  Bagi yang sudah lihai, silahkan menambahkan tipsnya agar kita bisa mendapatkan batik dengan harga sesuai kualitasnya.